Peristiwa Isra Mi’raj, Saleh Yasin: Perjalanan Menerima Perintah Sholat

Malutzone – Isra Mi’raj selalu diperingati sejumlah umat muslim di dunia, termasuk Indonesia. Peristiwa itu merupakan perjalanan nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha yang terjadi pada 27 Rajab tahun pertama sebelum Hijriah, antara 620 – 621 Masehi.

Perjalanan Isra Mi’raj dilakukan nabi Muhammad dalam waktu 1 malam.

Al ustadz Saleh Yasin saat mengisi hikmah Isra Mi’raj yang diselenggarankan Pemda Kota Tidore di pantai Tugulufa, Kamis (30/1/2025) malam, menyampaikan, inti dari perjalanan Isra Mi’raj merupakan perintah untuk melaksanakan sholat 5 waktu bagi umat Islam.

Ustadz Saleh menyampaikan, Isra dan Mi’raj adalah urutan yang kedua sesudah Al Quran. Peristiwa penting itu sempat dianggap mustahil, bahkan Rasulullah dituding sebagai seorang pendusta besar. Kondisi saat itu, pendekatan secara logika, bahkan sains juga belum se-modern sekarang.

“Kecuali pendekatan Imani, olehnya itu peristiwa isra dan mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan perjalanan yang begitu jauh, bahkan di kalangan para empiris dan rasionalis, mereka membantah, sebab perjalanan Rasulullah kecepatannya melebihi cahaya dan hanya Rasulullah yang bisa lakukan, tentunya dalam waktu yang sangat singkat,” jelasnya.

Ustad Saleh juga mengatakan, jika ibadah yang lain seperti puasa, zakat dan haji itu disampaikan lewat perantara, tetapi sholat tidak bisa, sholat diminta secara langsung, walaupun percakapannya dibalik tabir.

“Itu artinya, menunjukan bahwa betapa pentingnya sholat, oleh karena itu ibadah yang paling tinggi dari semua ibadah adalah sholat, amalan yang paling tinggi dari semua amalan adalah sholat. Dan sholat tidak bisa digantikan dengan yang lain-lainnya, sholat itu sesungguhnya perpaduan antara dua dimensi, yaitu dimensi jasadiyah dan ruhiyah,” ucapnya.

Jika sholat hanya dalam bentuk jasad atau gerakan saja, kata ustadz Saleh, maka sama halnya dengan olahraga, tidak pernah menyentuh hingga ke batin. Sholat hanya fokus pada gerakan itulah, sehingga shalat tidak mampu mencegah dari perbuatan tercela dan sebagainya.

“Padahal Alquran sudah memberikan ketegasan, bahwa sholat menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar,” kata Ketua MUI Kota Tidore itu.