Malutzone – Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan mencatat sejak 2018 hingga Juni 2025, angka infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Tidore Kepulauan mencapai 110 kasus.
Dimana pada 2018, Orang Dengan HIV (ODHIV) terdeteksi sebanyak 7 kasus, 2019 sebanyak 9 kasus, 2020 sebanyak 11 kasus, 2021 sebanyak 7 kasus, 2022 sebanyak 18 kasus, 2023 sebanyak 16 kasus, 2024 sebanyak 29 kasus dan 13 kasus pada 2025.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan Saiful Salim mengatakan, ODHIV yang terdeteksi itu didominasi oleh laki-laki dengan rata-rata penyebabnya karena hubungan seks bebas.
“Kasus ini paling banyak didominasi oleh laki-laki. Kebanyakan penyebab ini istilahnya suka jajan di luar, sementara perempuan kebanyakan tertular dari suami,” kata Saiful kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu, (11/6/2025).
Selain hubungan seks bebas, kata Saiful, penularan HIV disebabkan juga dari perilaku seksual menyimpang atau sesama jenis, infeksi menular seksual (IMS).
“Selain itu faktor lain seperti hubungan seksual tanpa kondom, sipilis, termasuk penggunaan jarum suntik bersamaan, serta transfusi darah, itu yang merupakan faktor penyebabnya,” terang Saiful.
Ia mengatakan, untuk menangani pasien ODHIV di Kota Tidore, telah dibuka pelayanan dukungan pengobatan (PDP) di 10 Puskesmas dan rumah sakit.
“Untuk 10 Puskesmas saat ini sudah sediakan pelayanan PDP itu, termasuk dengan rumah sakit. Jadi tergantung si pasien pemeriksaan atau ambil obatnya, di puskesmas atau bisa ambil di rumah sakit,” katanya.
Dengan adanya PDP itu, pasien ODHIV terus dipantau dan diberi obat antiretroviral (ARV) secara teratur. Obat ini bisa mencegah perkembangan HIV serta membantu pemulihan kekebalan tubuh.
“Jadi ini tidak dapat sampai penyembuhan total. ARV ini tidak bisa menyembuhkan HIV secara utuh, tetapi obat ini dapat membantu pasien dapat hidup lebih lama dan lebih sehat,” jelas Saiful.
Ia mengungkapkan, hingga tahun 2025, penyebaran kasus HIV telah ditemukan di seluruh kecamatan di Kota Tidore Kepulauan.
Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan beserta Puskesmas gencar melakukan skrining pada populasi risiko HIV.
“Jadi populasi penderita HIV ini kan ada dua, populasi kunci dan rentan. Populasi kunci itu diantaranya LSL itu lelaki suka lelaki, warga binaan di rutan, pekerja wanita di tempat hiburan malam. Sementara populasi rentan itu seperti ibu hamil, wanita remaja, anak jalanan, maupun penyandang disabilitas,” kata Saiful.
Skrining kesehatan tersebut menurut Saiful, merupakan bagian dari program rutin oleh Dinas Kesehatan, namun intensitasnya ditingkatkan setelah ditemukan 13 kasus baru pada tahun 2025.
“Untuk mengantisipasi hal itu, makanya setiap 6 bulan dalam setahun kami intens melakukan pemeriksaan atau skrining. Melalui skrining ini kami berharap bisa mendeteksi kasus sedini mungkin, sehingga penularan dapat dicegah dan pengobatan bisa segera diberikan,” katanya.
Saiful menegaskan, bertambahnya kasus HIV di 2025 menjadi alarm bagi Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, agar lebih aktif dalam edukasi serta melakukan deteksi dini.
Apalagi menurut Saiful, Kota Tidore Kepulauan diapit oleh dua Kabupaten/Kota yang memiliki prevelensi kasus HIV tertinggi di Maluku Utara, yakni Kota Ternate dan Halmahera Tengah.
“Makanya skrining kesehatan ini kami lakukan untuk menyasar populasi kunci tadi seperti pekerja seks komersial atau PSK di tempat hiburan malam, guna memutus penularan penyakit tersebut. Untuk tempat hiburan malam di Oba Utara ini kami intens melakukan skrining kesehatan,” katanya.
Olehnya itu, pihkanya mengimbau masyarakat agar memiliki kesadaran tinggi menjaga diri masing-masing dari penularan HIV, terutama kalangan remaja atau belum menikah, agar menjauhi pergaulan bebas, seperti seks bebas.
Selain itu, diimbau juga bagi yang sudah menikah terutama laki-laki, untuk tidak gonta-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual.
“Pencegahan itu lebih utama. Makanya disaat melakukan skrining kesehatan, kami juga memberikan edukasi serta imbauan untuk mengajak masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan dan tidak takut menjalani pengobatan jika memang terdeteksi HIV,” tandasnya.



