AI Karya Dokter Indonesia Bantu Deteksi Penumpukan Cairan pada Pasien Gagal Jantung

Malutzone – Upaya menekan tingginya angka rawat ulang pasien gagal jantung di Indonesia mendorong lahirnya inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Primaya Hospital Tangerang, dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), SubSp.Vas(K), FIHA, mengembangkan teknologi yang mampu mendeteksi penumpukan cairan di paru-paru sejak dini.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu tenaga medis mengidentifikasi kondisi pasien gagal jantung secara lebih akurat sebelum diputuskan pulang dari rumah sakit.

Dengan demikian, risiko pasien kembali menjalani perawatan akibat kondisinya memburuk dapat ditekan.

Menurut dr. Rony, salah satu penyebab utama tingginya angka rehospitalisasi adalah masih adanya cairan di paru-paru atau kongesti subklinis yang tidak terdeteksi melalui pemeriksaan menggunakan stetoskop.

“Setelah kita lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya masih ada cairan atau kongesti yang subklinis,” ujar dr. Rony, Selasa (14/7/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut sering kali tidak terdeteksi karena suara cairan di paru-paru belum dapat didengar melalui pemeriksaan konvensional.

“Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut,” katanya.

Berangkat dari kondisi itu, dr. Rony mengembangkan perangkat berbasis AI yang mampu menganalisis suara paru-paru untuk membantu dokter mengetahui apakah pasien masih mengalami penumpukan cairan.

“Kita mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kita periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu,” ujarnya.

Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk digunakan di rumah sakit, tetapi juga dirancang agar dapat dimanfaatkan pasien secara mandiri di rumah.

Pasien cukup menggunakan stetoskop portabel yang terhubung dengan aplikasi pada telepon pintar untuk melakukan pemeriksaan berkala.

“Nanti di gadget ada aplikasi, alatnya disambungkan, kemudian pasien bisa mendengarkan sendiri. Kalau hasilnya positif, pasien bisa segera ke rumah sakit,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan selanjutnya akan tersimpan pada sistem berbasis cloud sehingga dapat dipantau tenaga kesehatan dari jarak jauh.

Menurut dr. Rony, konsep ini mendukung pengembangan layanan telemedicine sekaligus pemantauan pasien berbasis rumah (home-based monitoring).

Dengan pemantauan yang lebih mudah, pasien diharapkan tidak perlu terlalu sering datang ke rumah sakit hanya untuk menjalani kontrol rutin.

“Pengobatan yang bisa dikerjakan sendiri oleh pasien di rumah. Tidak bolak-balik ke rumah sakit, tidak antre BPJS berjam-jam, itu yang ingin kita bantu,” tutup dr. Rony.

News Feed