Menemukan Jejak; Apresiasi atas Novel ‘Jejak’ karya Pepi Al-Bayqunie.

Penulis: Oely Alfathani

(Anggota Komunitas d’Joung Cafee)

 

SORE itu 7 Agustus 2015, handphone saya berdering ketika kedua mata saya hendak terpejam, mau tidur siang, Atho sapaan sehari-hari Murad Polisiri, menelpon;
“Assalamualaikum ini deng Atho,… posisi?”
“Walaikumsalam di rumah.”
“Merapat ke djoung kafe skarang, ada oleh-oleh dari Jombang.”
“Oleh-oleh apa tu?”
“Buku”
“Oke, menuju !”

Percakapan lewat handphone itu berakhir tepat pukul 15.00 WIT, tidur siang batal. Padahal, seperti yang di katakan oleh Irfan (tokoh utama dalam novel Jejak) “Menikmati tidur siang apalagi setelah kekenyangan adalah anugerah yang diabaikan oleh orang modern atas nama kerja, etos kerja modern itu yang membodohi. Ritmenya mekanik dan kita kehilangan sensasi tidur siang” (Al-Bayqunie,2015; hal. 7).

Dalam hal ini saya setuju dengan Irfan, bukan karena saya pembenci yang muak terhadap modernitas sebagai narasi agung yang maujud pada birokrasi, demokrasi, liberalisme, kapitalisme, dan semua anak cucu kandung modernisme yang berjejak pada filsafat rasionalisme. dengan logika efisiensi, diferensiasi structural dan spesialisasi fungsional sehingga manusia menjadi terlalu mekanik, bukan pula karena saya pembela yang fanatik terhadap kaum post-modernis yang menggugat peradaban modernitas sekaliber Friedrich Nietzhce yang “membunuh tuhan” dengan palu godam nihilismenya, Michel Foucault yang “memejahijaukan” sejarah modernitas dengan arkeologi pengetahuannya, atau Jacques Derida yang meruntuhkan bangunan modernitas dengan nalar dekonstruksinya. Akan tetapi, saya setuju dengan Irfan karena memang saya hobinya tidur siang, dan modernitas buat saya adalah proyek yang belum selesai.

Bergegas saya menuju d’Joung Cafee, sebuah kedai kopi tempat di mana Atho dan kawan-kawan termasuk saya sering nongkrong. Kalau dalam novel “Jejak” ada plot tentang kedai kopi milik Daeng Rumpa, tempat di mana Irfan dan teman-teman se-antropologi-nya nongkrong dan sekaligus menjadi anggota dari apa yang disebutnya sebagai “majelis kopi”, maka di Kota Tidore ada d’Joung Café, sebuah kedai kopi yang seolah bertransformasi menjadi apa yang ingin saya sebut sebagai “pabrik wacana” untuk menghindari penyebutan “DPRD Tingkat III”. Betapa tidak, bukan hanya diskursus politik, tapi juga fungsi control, bedah APBD, problem regulasi dan semua kebijakan publik sudah menjadi bagian dari perbincangan cafebreak.

Sebagaimana nuansa kedai kopi pada umumnya, fungsinya memproduksi wacana, berbahan baku pengetahuan, ataupun pemikiran, yang kemudian didistribusi oleh media massa sebagai informasi dan opini dan akhirnya dikonsumsi oleh publik, termasuk dikalangan elit untuk mengeksekusi kebijakan.

Kedai kopi adalah salah satu prototype dari apa yang Jurgen Habermars menyebutnya sebagai ruang publik (public speace) di mana masyarakat komunikatif menyelenggarahkan diskursus-diskursus rasional untuk mendapatkan pemahaman intersubjektifitas.

Berwacana di sini tidak dipahami sekedar berhenti sebagai sikap teoritis melainkan sudah termasuk ke dalam usaha praksis, Habermars mengistilahkannya sebagai ”praksis komunikatif”.

Jejak hubungan kedai kopi dan perubahan sosial bisa dilacak pada zaman raja Louis di Perancis. Sang raja melarang warganya minum kopi, konon katanya; satu butir biji kopi bisa berdampak subversif (merong-rong/kudeta) terhadap otoritas penguasa yang sah.

Sejarah mencatat, revolusi Perancis bermula dari kedai-kedai kopi sepanjang jalan. Di Jerman, pada suatu zaman yang bergolak di abad 19, pernah hadir sebuah cafe bernama ”Cafe Steheley” di Gendarenmarkt Berlin, sebuah tempat di mana berkumpul anggota Doktorclub, salah satu kelompok dari komunitas Hegelian Muda atau Hegelian Sayap Kiri. Kelompok ini terdiri dari cendikiawan liberal di mana Marx dan Engels bergabung di situ mendiskusikan pemikiran (filsafat) Hegel, diskusi yang liar di kafe itu senantiasa melahirkan gagasan-gagasan radikal yang berimplikasi sosial secara revolusioner. Di Indonesia, menurut ko Ipul (panggilan akrab untuk DR. Saiful Bahri Ruray; seorang Politisi Malut yang menggilai sejarah) di zaman pergerakan nasional, konon lagu Indonesia Raya oleh W.R. Soepratman diciptakan di sebuah kedai kopi yang terletak di pasar senin, Jakarta.

Dalam perjalanan menuju d’Joung cafee, saya penarasaran bukan saja soal judul bukunya, tapi juga penasaran kenapa Atho harus repot-repot membawa oleh-oleh berupa buku kepada saya; tumben. Saya menduga mungkinkah Atho sedang menyuap saya dengan buku itu untuk berafiliasi secara politik dengan kandidatnya yang bertarung di pilkada Tidore Kepulauan? Mengingat kala itu Atho sendiri merupakan tim sukses pada pasangan calon wali kota Tidore Kepulauan, Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen. Ternyata dugaan saya keliru, sampai di d’Joung, saya baru tahu bahwa buku itu atau lebih tepatnya novel yang berjudul ”Jejak” itu, bukan saja dikasihkan kepada saya tapi juga kepada Ardiansyah Fauzi, Ikbal Ohorela, dan beberapa teman yang lain.

Mungkin saya, dan beberapa teman ini dengan latar belakang profesi dan kepentingan politik yang berbeda-beda oleh Atho dianggap sebagai peminat karya sastra. Meskipun demikian, Atho, Ardian dan saya sangat mafhum bahwa cuaca politik Tidore terlalu panas untuk memperbincangkan sastra, teater, film, musik, sejarah, humaniora, kebudayaan, sains, filasafat teologi, dan tasawuf di d’Joung cafee. Tema politik terlalu hegemonik dalam ruang wacana kita, apalagi diskursus politik tersebut lebih didominasi oleh kalkulasi kepentingan kelompok jangka pendek ketimbang kalkulasi nilai-nilai adiluhung. Pada titik ini, ”Jejak” adalah interupsi.

Membaca novel ”Jejak”, seperti kita diingatkan tetang masa lalu yang sayup-sayup terlupakan, Pepy Al-Bayqunie sengaja merangkai cerita cinta berlatar Sulawesi Selatan di abad 21 yang justru menghubungkan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang melegenda. Mengikuti kisah cinta Irfan sebagai mahasiswa antropologi yang bercitarasa aktivis kampus dengan I Coppo Bungaeja, seorang mahasiswa sastra yang berasal dari komunitas lokal penghayat kepercayaan kuno, dengan segala lika-likunya adalah cara sejarah mereinkarnasi pelaku-pelaku yang terlibat pada peristiwa masa dahulu, lalu dengan mudah kita menyebutnya sebagai ”sejarah sedang berulang”.

Perjumpaan Irfan dan I Coppo Bungaeja, sejatinya adalah jejak untuk kembali kepada legenda Pangeran Ranggasela dan Putri Bunga Singkerurupa, leluhur komunitas Tobare di Sualawesi Selatan. Pun demikian, pada komunitas Tobare sebagai suatu komunitas lokal yang terisolasi secara sosio-politik-religius dari mayoritas suku Bugis yang muslim, oleh Pepy Al-Bayqunie kita diajak menemukan kembali jejak Islam dan Partai Komunis Indonesia (PKI) masuk ke tanah Bugis. Secara keseluruhan, novel ”Jejak” telah menampilkan setiap laku, momen, karakter, dan narasi sebagai jejak bagi jejak-jejak yang lain, semacam jejak yang berjejak-jejak.

Pada akhirnya begitu banyak jejak yang harus ditemukan, terlalu banyak jejak untuk ditelusuri. Bukankah kita bisa melacak jejak zaman Renaisans pada abad 16 di Italia lewat lukisan Monalisa karya Leonard Davinci. Kita bisa mengetahui reputasi dan prestise seseorang dengan rekam jejaknya (treg record) berupa laporan arsip yang berserakan di sana-sini. Kita juga bisa mengetahui tabiat seseorang itu dengan mengetahui siapa teman-temannya sebagai jejak, bahkan setiap kita sudah punya jejak digital masing-masing.

Kalau Pepi Al-Bayqunie lewat sosok Irfan mengatakan bahwa ”cinta tidak akan pernah salah mengenali tuannya”, maka izinkanlah saya untuk mengatakan bahwa ”kadang orang selalu salah mengenali calon pemimpinnya”. Untuk itu mesti disadari bahwa jejak suatu realitas bukanlah realitas itu sendiri, sebagaimana ungkapan Jalaludin Rumi; ”menemukan jejak kaki rusa, bukan berarti menemukan seekor rusa”. Jejak kaki rusa dalam metafora Rumi hanyalah media, tanda, atau simbol, yang mengantarkan kita utuk sampai kepada ”seekor Rusa”. Kita hanya perlu berkomitmen untuk upaya menemukan dan menelusuri jejak, sebab tidak sedikit yang gagal pada tahap menemukan jejak, namun tidak banyak yang berhasil pada tahap mencapai Relitas, Kebenaran, Hakikat, atau Tuhan. Wallahua’lam bissawab!

News Feed