Malutzone – Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026). Posisi ini melemah 20 poin atau 0,11% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.980/US$. Sepanjang hari, mata uang nasional bergerak dalam rentang Rp17.964 hingga Rp18.010 per dolar AS.
Di saat yang sama, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung 20–21 Oktober 2026.
Berdasarkan survei CNBC Indonesia Research, keputusan itu ternyata berbeda dari ekspektasi pasar; dari 13 institusi keuangan, sebanyak 10 lembaga memprediksi BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 6,00%, sementara hanya tiga yang memperkirakan tidak ada perubahan.
Meski menahan suku bunga acuan, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sementara Lending Facility tetap di 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
“Ke depan, BI memperkirakan rupiah stabil didukung komitmen BI, yield menarik, inflasi dan prospek ekonomi baik,” tegas Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/10/2026).
Destry juga menguraikan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, antara lain eskalasi konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen di pasar saham. Per 20 Oktober 2026, rupiah tercatat melemah 0,61% secara point-to-point dibandingkan akhir September 2026, berada di posisi Rp17.985/US$.
Untuk menahan tekanan tersebut, BI terus memperkuat seperangkat kebijakan guna menarik aliran modal asing dan memperdalam pasar valas domestik. Langkah tersebut mencakup pemberian insentif biaya lindung nilai, pengembangan transaksi mata uang lokal (LCT), serta optimalisasi instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Sejak Juni hingga 20 Oktober 2026, paket kebijakan ini telah berhasil mendorong aliran modal masuk sebesar US$9,9 miliar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,04% ke level 101,744 pada pukul 15.00 WIB, yang turut memberikan beban tambahan bagi pergerakan mata uang emerging markets termasuk rupiah.









